Kecintaanku pada dunia pendidikan diawali ketika aku mengajar anak-anak panti asuhan di Lembang Bandung pada tahun 2003. Dalam perjalananku sendiri (my Camino), aku meyakini sekaligus menjalani hidup bahwa pendidikan dapat mengubah kondisi seseorang persis seperti yang dikatakan oleh Nelson Mandela "Education is the most powerful weapon to change the world."
Sejak lebih dari 20 tahun lalu, aku belajar bahwa mendidik berarti memberdayakan pikiran dan hati - empowering mind and heart. Bagiku mendidik bukan sekadar mengajar, tapi menemani manusia lain bertumbuh termasuk diriku. Value pribadi yang kuambil sebagai seorang pendidik sampai detik ini adalah GROW (Genuine-Rejoice-Optimist-Worthwhile).
Langkah pertamaku secara resmi di dunia pendidikan semakin bertumbuh setelah usai menuntaskan studi di Universitas Parahyangan (UNPAR) pada 2005. Kala itu, aku melabuhkan hati sebagai seorang pendidik Matematika, menyemai benih ilmu di tanah yang baru digarap yakni Sekolah Talenta Bandung. Dua tahun lamanya aku turut merajut fondasi sekolah tersebut dari nol, hingga akhirnya takdir membawaku ke kota Jakarta.
Di bawah naungan yayasan BPK Penabur Jakarta, tepatnya di SMPK 4 Penabur, aku mengabdikan diri hingga tahun 2014. Meniti peran bukan sekadar pengajar logika angka melainkan pendidik karakter. Di tengah proses bertumbuhku sebagai seorang pendidik, semesta mengirimku untuk memperdalam ilmu HOTS (Higher Order Thinking Skills) in Mathematics di SEAMEO Recsam Malaysia tahun 2010. Sepulang dari sana, aku dipercaya menjadi penjaga struktur serta mutu pendidikan dalam naungan yayasan sebagai koordinator Guru Matematika yang berkolaborasi dengan 70 orang Guru dari 17 cabang selama 2 periode. Perjalananku terus berlanjut hingga suatu hari aku memiliki mimpi untuk menjadi seorang penulis buku, saat itu aku putuskan untuk mengundurkan diri dari seorang Pendidik. Namun ternyata rencanaku bukanlah rencanaNya, sampai pada akhirnya aku mendapat panggilan dari salah seorang sahabat yang membawaku berkarya kembali sebagai seorang pendidik di Yayasan Budi Siswa tepatnya di SMP Kolese Kanisius.
Dua tahun lamanya aku berkarya di SMP Kolese Kanisius dan kali ini muridku semuanya laki-laki semua. Hal ini menjadi perjalanan yang menarik dalam proses pertumbuhanku sebagai seorang pendidik. Pada masa yang sama, sebuah mimpi lama akhirnya terwujud yaitu buku pertamaku bersama dua orang sahabat terbit dengan judul MATAMATIKA. Buku ini bukan sekadar karya tulis, tetapi jejak pemikiran dan pengalaman kami sebagai pendidik khususnya berbagi taktik menemukan karakter dalam matematika. Ketika masa kerjaku selesai, aku memutuskan untuk kembali fokus menjadi seorang penulis buku. Di tengah perjalanan, aku dipertemukan dengan perjumpaan untuk menjadi seorang pendidik aktif di sekolah yaitu di SMPK 2 Penabur Jakarta.
Tahun 2016 aku kembali pulang menjadi pendidik dengan tanggungjawab tambahan sebagai Koordinator Guru Matematika dan penjaga mutu untuk proyek digital learning sampai dengan tahun 2023. Kualitas diriku yang masih perlu belajar, semakin bertumbuh seiring dengan tanggungjawab yang diberikan termasuk tantangan yang sedang dihadapi khususnya pada masa pandemi covid 19. Kondisi pandemi menjadi pembuktian diriku yang sebenarnya dan aku bersyukur karena telah bersiap diri sejak 2018 dengan membuat video pembelajaran di youtube sehingga masa pandemi tidak menjadi beban sebagai seorang pendidik. Saat itu kuputuskan untuk menempuh studi Magister Pendidikan dengan konsentrasi educational leadership di Universitas Pelita Harapan (UPH) dan aku lulus tepat waktu 2 tahun terhitung dari tahun 2020-2022. Refleksiku saat itu adalah aku belajar pintar merasa bukan merasa pintar dan menjadi seorang pendidik sekaligus pemimpin bukan soal kepintaran, jabatan, dan posisi semata, melainkan soal memberi teladan, mendengar, melayani, dan memberdayakan orang untuk semakin bertumbuh lebih baik. Hal ini juga merupakan penemuan dari penelitianku di Sekolah Mangunan Yogyakarta yang didirikan oleh mendiang Rm YB Mangunwijaya, ada banyak hal yang mengubah diriku untuk lebih baik salah satunya dalam hal ambisi dan ego.
Sampai disini aku tidak lagi berambisi menjadi seorang penulis buku namun aku menikmati setiap proses yang ada setahap demi setahap sampai akhirnya aku kembali menerbitkan 2 buku tentang LATIHAN HOTS bersama 2 orang sahabat dan ini terjadi secara alamiah dan mengalir begitu saja. Disini aku teringat pitutur luhur dalam bahasa Jawa "alon-alon asal kelakon." Di tengah proses pertumbuhanku tentunya aku juga tetap eling lan waspada agar aku tidak terlena apalagi takabur. Di tengah permenunganku aku teringat salah satu pesan lain dari Profesor yang memberikan kata pengantar pada buku MATAMATIKA yang mengatakan "jadilah pribadi yang dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang" hal ini rasanya semakin menguatkanku untuk terus melaju dan bertumbuh untuk menikmati setiap perjalan seperti saat naik kereta.
Laju kereta pertumbuhanku terus berjalan sampai pada medio 2023, aku diberi kesempatan untuk menjadi Kepala bidang Pendidikan dari TK-SMA di Yayasan Santo Yakobus Jakarta. Pesan salah satu dosen yang sepertinya menjadi doa beliau adalah "setelah lulus MAGISter, anda lebih baik mengajar (baca : memberdayakan) para Guru dimanapun karena magis itu artinya do more" dan pesan sekaligus doa sang dosen terjadi dalam hidupku sampai dengan medio 2025. Jika mengingat kembali masa itu, sejenak aku menghela nafas panjang sambil mengingat ayat dari Amsal 3 : 5-9 yang menjadi penuntun dan kekuatanku. Aku bersyukur bisa diberi kesempatan untuk menerapkan ilmu educational leadership selama kurang lebih 2 tahun sampai akhirnya aku menemukan sebuah pernyataan dari mendiang Gus Dur yang mengatakan "tidak ada jabatan yang perlu dibela mati-matian."
Tulisan pernyataan Gus Dur menguatkanku untuk legowo (tidak lekat) dan siap berproses pada amanah baru sebagai Kepala bagian Pengendalian dan Penjaminan Mutu (PPM) di yayasan yang sama sampai dengan sekarang. Perjalananku masih terus berlanjut dan aku semakin bertumbuh menjadi seorang prokopton yang dalam bahasa Yunani berarti "pribadi yang selalu berusaha menjadi lebih baik" setahap demi setahap.
Teman-teman, terima kasih telah membaca kisah perjalanku. Selamat menikmati perjalanan/camino kita bersama untuk menjadi seorang prokopton demi semakin besar kemulianNya.